
Fenomena astronomi langka akan menyapa masyarakat Indonesia pada Selasa, 3 Maret 2026. Bertepatan dengan malam 14 Ramadhan 1447 H, langit Indonesia akan dihiasi oleh Gerhana Bulan Total (GBT).
Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah PBNU, Ma’rufin Sudibyo, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena posisi Bulan tepat berada di titik nodal saat oposisi dengan Matahari. Akibatnya, seluruh cakram Bulan masuk ke dalam umbra (bayangan inti) Bumi.
Saat mencapai puncak gerhana, Bulan tidak benar-benar hilang, melainkan meredup secara drastis. Warnanya akan berubah menjadi merah gelap. Intensitas warna ini sangat bergantung pada kondisi polusi atau kebersihan udara global pada saat itu. Semakin bersih udara, biasanya warna merahnya akan semakin terang.
Bagi Anda yang ingin mengamati, berikut adalah rincian waktunya:
Secara keseluruhan, proses gerhana ini berlangsung selama 3 jam 27 menit. Namun, durasi pandang di setiap daerah berbeda-beda tergantung waktu terbit Bulan di wilayah tersebut.
Fakta Menarik: Hanya wilayah Maluku dan Papua yang bisa menyaksikan seluruh fase gerhana dari awal hingga akhir. Sementara itu, wilayah Aceh akan mengalami durasi totalitas tersingkat, yaitu sekitar 16 menit.
Mengingat fenomena ini kasat mata (terlihat jelas), umat Muslim dianjurkan untuk mendirikan Shalat Khusuf. Berdasarkan panduan LF PBNU, berikut adalah waktu pelaksanaan shalat di masing-masing zona waktu:
| Zona Waktu | Rentang Waktu Shalat |
| WIB | Maghrib s.d. 20:17 WIB |
| WITA | Maghrib s.d. 21:17 WITA |
| WIT | 18:50 s.d. 22:17 WIT |
Secara fiqih, shalat gerhana dapat dilaksanakan selama proses perubahan cahaya bulan (menjadi gelap/merah) masih terlihat dengan jelas.
Sumber: Diolah dari data Lembaga Falakiyah PBNU.
| Luas Tanah | 1200 m2 |
| Luas Bangunan | 700 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1985 |